Jumat, 27 Juni 2014

Mitos Daun Kelor

Dunia tak selebar daun kelor, peribahasa ini sering diungkapkan seseorang untuk menyatakan bahwa dunia ini luas. Meski kenyataannya, beberapa yang mengungkapkan tidak tahu selebar apa sebenarnya daun kelor tersebut. Untuk itu ada baiknya kita berkenalan dengan daun yang memiliki banyak manfaat dan cerita mitos yang terkandung di dalamnya.

Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini memiliki ketinggian pohon 711 meter. Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau; bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat disayur.

Kelor memiliki banyak manfaat dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tercatat, ada lebih dari 300 penyakit yang dapat disembuhkan dari kelor, baik dari daun ataupun buahnya. Tak heran, kelor menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari yang sering digunakan sebagai sayuran dan bahan baku obat-obatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan bayi dan balita mengonsumsi daun kelor untuk masa pertumbuhan mereka. Selain itu, WHO juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib setelah melakukan studi dan menemukan bahwa kelor berjasa sebagai penambah kesehatan murah selama 40 tahun di negara-negara termiskin di dunia.

National Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008 pun mengatakan, bahwa pohon kelor telah digunakan sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan ayurveda India kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun moringa oleifera.

Di samping dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, pohon kelor juga dianggap pohon sakti. Hal inilah yang memunculkan mitos bahwa daun ini bisa mengalahkan kekuatan makhluk halus.

Pengaruh mitos bahwa daun kelor bisa untuk mengalahkan makhluk halus telah merasuk begitu dalam ke benak masyarakat nusantara, tak terkecuali juga para jawara sakti yang biasa mendapat kekuatan dengan bantuan makhluk halus. Mereka ikut termakan mitos tersebut dan sangat yakin bahwa kesaktiannya akan hilang jika berhadapan dengan daun kelor.

Dengan keyakinan seperti itu, sedikit saja mereka terkena sentuhan daun kelor maka secara psikologis kekuatannya akan runtuh duluan dan akhirnya memang fisiknya juga benar-benar ikut lemas dan ambruk.

Sekarang ini, di zaman yang disebut maju, masih banyak orang yang sulit untuk melepaskan diri dari belenggu mitos kesaktian daun kelor. Di perkampungan di Nusantara, di mana orang percaya bahwa jika ada orang yang sakit dan tergeletak lama namun tidak juga meninggal, maka orang tersebut diduga memiliki kesaktian tertentu yang harus segera dilepas dari tubuhnya. Untuk membantu melepas kesaktiannya, biasanya orang tersebut disapu dengan daun kelor hingga akhirnya dapat meninggal dengan tenang. Saat jasadnya dimandikan, orang tersebut juga disapu lagi dengan daun kelor supaya bersih dari segala makhluk dan benda mistis yang masih menempel pada jasadnya.

Selain untuk mengusir, mitosnya daun kelor juga dipercaya bisa menolak kedatangan makhluk halus. Di zaman serba teknologi seperti sekarang ini kadang masih bisa ditemukan ada rumah yang di atas pintu utamanya ditaruh seikat daun kelor sebagai penolak bala

Label: , , , , , , ,

Kamis, 26 Juni 2014

Daun Kelor _ Pembersih Racun dalam Hati dan tubuh

Secara historis, Kelor telah digunakan di Eropa sebagai tonik hati dan Phytotherapy berbagai macam kondisi hati dan kantung empedu, termasuk hepatitis dan sirosis. Sebuah penelitian yang dilakukan di Jerman mengungkapkan data yang menarik tentang menetralkan racun yang menyebabkan kerusakan hati serta adanya agen hepatotoksik yang potensial. Sejumlah senyawa kimia kelompok silymarin yang terkandung dalam Kelor, terbukti memiliki efek perlindungan terhadap sel-sel hati.

Salah satu penyebab utama penyakit hati adalah banyaknya kandungan racun yang masuk kedalam tubuh bersama makanan. Hal itu menyebabkan hati penuh dengan endapan racun dan detoksifikasi tubuh dibutuhkan untuk mencegah racun tersebut merusak sel-sel hati dan mengganggu fungsinya.

Efek terapi Kelor, tidak hanya memperbaiki kerusakan hati akibat racun dan metabolisme, tetapi juga pada mengobati penyakit-penyakit hati. Banyak studi yang menunjukan hasil bahwa Kelor adalah produk detoksifikasi yang baik. Kelor menghilangkan logam lebih cepat, mengurangi efek negatif dari alkohol pada hati, dan sepenuhnya mencegah etanol menyebabkan perubahan mitokondria.

Alasan mengapa kelor dapat melakukan efek yang mengesankan seperti itu bisa karena dua mekanisme pada tingkat sel. Yang pertama adalah bahwa hal itu dapat mengubah membran sel sehingga racun tidak bisa menembus ke dalam sel. Yang kedua adalah bahwa hal itu meningkatkan kecepatan sintesis protein yang merangsang sel untuk beregenerasi lebih cepat. Karena racun tidak dapat menembus membran sel, maka semua sel-sel hati tetap sehat dan dapat melakukan penggantiaan sel-sel lama atau rusak dengan sel-sel baru yang lebih baik. Seperti itulah cara bekerja pembersihan racun dalam hati.

Kelor tidak hanya berperan sebagai suplemen untuk memberikan efek terapi pada kasus kerusakan hati, tapi juga mengobati penyakit hati. Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa gangguan hati yang disebabkan oleh segala sesuatu dari sirosis hepatitis virus dapat diobati. Hepatosit ditemukan secara alami dalam tubuh yang dirangsang oleh Kelor dan mendorong untuk menggantikan sel yang rusak dan jaringan yang sakit.

Membersihkan racun dari hati diperlukan ketika kerusakan dari alkohol dan obat-obatan lainnya mencegah atau mengurangi kemampuan hati untuk melakukan regenerasi lagi. Dengan melakukan detoksifikasi tubuh, fungsi keseluruhan tubuh akan meningkat.

Label: , , , , , , , , , ,

Rabu, 25 Juni 2014

Daun Kelor - Vitamin

a.  Vitamin, Perlu Sedikit namun Vital

Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) adalah sekelompok  senyawa  organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi  vital  dalam  metabolisme  setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.  Jadi, vitamin mutlak harus disuplai dari konsumsi harian kita.

Nama ini berasal dari gabungan kata  bahasa Latin  vita  yang artinya “hidup” dan  amina (amine) yang mengacu pada suatu  gugus  organik  yang memiliki  atom  nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian.  Belakangan diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi  enzimologi  (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor  dalam  reaksi  kimia  yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin,  riboflavin,  niasin,  asam pantotenat,  biotin,  vitamin B6, vitamin B12, dan  folat). Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi  vitamin D  dan  vitamin K  dalam bentuk  provitamin  yang  tidak  aktif. Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan vitamin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh. Asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui suplemen makanan.

Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan, maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah  avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A, maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.

b.  Penuaan, Radikal bebas dan Peran Vitamin,

Penuaan tubuh merupakan hasil akumulasi dari berbagai kerusakan sel dan jaringan yang tidak dapat diperbaiki. Pada keadaan normal, kerusakan pada sel dan jaringan tubuh dapat diperbaiki melalui proses replikasi sel tubuh yang juga dikenal dengan istilah mitosis.  Akan tetapi pada berbagai kasus, sel yang rusak tidak lagi dapat diperbaharui, melainkan terus terakumulasi. Hal inilah yang berpotensi menyebabkan penuaan pada tubuh.  Senyawa radikal bebas merupakan salah satu agen yang berkontribusi besar dalam peristiwa ini.

Mitokondria  merupakan salah satu organel sel  yang paling rentan mengalami kerusakan oleh senyawa oksigen reaktif (radikal bebas). Hal ini terkait dengan banyaknya reaksi pelepasan oksigen bebas di dalam organel ini yang merupakan pusat metabolisme energi tubuh. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa tingkat kerusakan mitokondria ini berhubungan langsung dengan proses penuaan tubuh atau panjangnya umur suatu makhluk hidup. Selain itu, kerusakan DNA akibat reaksi oksidasi oleh radikal bebas juga turut berperan besar dalam peristiwa ini. Oleh karena itu, tubuh memerlukan suatu senyawa untuk menekan efek perusakan oleh radikal bebas.

Vitamin merupakan satu dari berbagai jenis senyawa yang dapat menghambat reaksi perusakan tubuh oleh senyawa radikal bebas terkait dengan aktivitas antioksidannya. Asupan vitamin antioksidan yang cukup akan membantu tubuh mengurangi efek penuaan oleh radikal bebas, terutama oleh oksigen bebas yang reaktif.  Selain itu, vitamin juga berkontribusi dalam menyokong sistem imun yang baik sehingga risiko terkena berbagai penyakit degeneratif dan penyakit lainnya dapat ditekan, terutama pada manula. Jadi, secara tidak langsung, asupan vitamin yang cukup dan seimbang dapat menciptakan kondisi tubuh yang sehat dan berumur panjang.

Beberapa jenis vitamin telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi. Contoh vitamin yang banyak berperan sebagai senyawa antioksidan di dalam tubuh adalah vitamin C dan vitamin E. Vitamin E dapat membantu melindungi tubuh dari  oksidasi  senyawa radikal bebas.  Vitamin ini juga mampu bekerja dalam kondisi kadar senyawa radikal bebas yang tinggi, sehingga mampu dengan efisien dan efektif menekan reaksi perusakan jaringan di dalam tubuh melalui proses oksidasi.

Di samping vitamin E, terdapat satu jenis vitamin lagi yang juga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, yaitu vitamin C. Vitamin ini berinteraksi dengan senyawa radikal bebas di bagian cairan sel. Selain itu, vitamin C juga dapat memulihkan kondisi  tubuh akibat adanya reaksi oksidasi dari berbagai senyawa berbahaya.

Bila kadar radikal bebas di dalam tubuh menjadi sangat berlebih dan tidak lagi dapat diantisipasi oleh senyawa antioksidan, maka akan timbul berbagai penyakit kronis, seperti kanker, arterosklerosis, penyakit jantung,  katarak,  alzhemeir, dan  rematik. Bagi orang yang memiliki sejarah penyakit kronis tersebut dalam garis keturunannya, dianjurkan untuk mengonsumsi banyak makanan yang mengandung vitamin C dan E sebagai sumber senyawa antioksidan. Selain itu, suplemen makanan juga dapat turut membantu mengatasi masalah tersebut.

c.  Kelor mengandungan Vitamin yang berlimpah

Kelor mengandung  Vitamin A  (Alpha & Beta-carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, asam folat, Biotin, dalam jumlah yang berlimpah. Bahkan, berkali lipat dari sumber makanan yang dikenal sebagai sumber nutrisi tinggi.

Pada dasarnya, ada dua kelompok vitamin, yaitu : yang larut dalam lemak dan yang larut dalam air. Vitamin A, D, E, dan K, larut dalam lemak sehingga memerlukan lemak agar dapat diserap oleh tubuh. Kelebihan vitamin-vitamin tersebut akan disimpan dalam hati dan lemak tubuh Anda, kemudian digunakan saat diperlukan. Berlebihan mengonsumsi vitamin yang larut dalam lemak dapat membuat Anda keracunan sehingga menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, serta masalah hati dan jantung.

Vitamin B kompleks dan C, merupakan vitamin yang larut dalam air. Tubuh Anda menggunakan vitamin-vitamin itu sesuai kebutuhannya, kemudian mengeluarkan kelebihannya melalui urin. Karena vitamin ini tidak disimpan dalam tubuh,  risiko keracunan sangat kecil dibandingkan dengan vitamin yang larut dalam lemak, tetapi risiko kekurangan lebih tinggi.

Tabel Kandungan Vitamin dalam Daun Segar dan Daun Olahan Kelor menurut USDA (per 100 gram bahan).



Saya menemukan beberapa sumber yang mempublikasikan kandungan nutrisi tanaman Kelor dengan nilai yang berbeda-beda.  Perbedaan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya asal tanaman, budidaya, cara pengolahan hasil panen dan faktor pengujiannya.

Berikut beberapa peran vitamin yang terkandung dalam tanaman Kelor dalam menjaga tubuh tetap bugar (disarikan dari berbagai sumber yang berbeda).

1.     Vitamin A

Vitamin A berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dan jaringan epitel, meningkatkan kekebalan, dan memerangi radikal bebas (antioksidan). Kekurangan vitamin A adalah penyebab utama kebutaan pada anak-anak di banyak negara berkembang.

Vitamin A terdapat dalam makanan berwarna kuning-oranye, berdaun hijau gelap dan dalam bentuk retinol pada makanan yang berasal dari hewan. Wortel, mangga, labu, pepaya, bayam, brokoli, selada air, kuning telur, susu dan hati adalah makanan yang kaya vitamin A.  Kelor mengandung vitamin A, 10 kali lebih banyak dan Beta Carotene, 4 kali lebih banyak dibanding vitamin A yang terkandung dalam Wortel.

2.     Vitamin B,

Vitamin B adalah vitamin  yang larut dalam  air  dan  memainkan peran penting dalam  metabolisme  sel. Dalam sejarahnya, vitamin B pernah diduga hanya mempunyai satu tipe, yaitu vitamin B (seperti orang mengenal  vitamin C  atau  vitamin D). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa komposisi  kimia  didalamnya membedakan vitamin ini satu sama lain dan terlihat dalam contohnya dalam beberapa  makanan. Suplemen yang mengandung ke-8 tipe ini disebut sebagai vitamin B kompleks. Masing-masing tipe vitamin B suplemen mempunyai nama masing-masing, seperti misalnya vitamin B1, B2, B3. Kelor mengandung vitamin B sebanyak 423 mg/100 gram daun segar.

3.     Vitamin B1 (tiamin)

Vitamin B1 melindungi sistem saraf, merangsang nafsu makan dan berperan dalam fungsi otot dan jantung. Tiamin juga membantu pengolahan karbohidrat, lemak dan alkohol. Kekurangan vitamin B1 menyebabkan penyakit yang disebut beri-beri, di mana penderita tidak dapat memproses karbohidrat dan lemak dengan baik dan mengembangkan berbagai gejala termasuk masalah jantung, saraf, peradangan nyeri sendi dan kurangnya nafsu makan.

Vitamin B1 hadir dalam biji-bijian, jeroan, kacang polong, kacang tanah, kuning telur, beras merah, semua jenis daging, kentang, kubis, kacang hijau, pisang, dan pepaya. Kelor mengandung vitamin B1 sebanyak 2,6 mg/100 gram daun kering. Dalam jumlah yang sama, kandungan B1 Kelor 4 kali lebih banyak dibanding kandungan vitamin B1 dalam daging babi dan 21 kali lebih banyak dibanding tepung terigu.

4.     Vitamin B2 (riboflavin)

Vitamin ini membantu pencernaan protein, karbohidrat dan lemak dan melindungi kulit dan mata. Kekurangan vitamin B2 dapat menyebabkan penyakit kulit, kesulitan mencerna makanan dan mata merah.

Vitamin B2 hadir dalam kubis, susu, keju, kacang polong, telur, beras, wortel, ubi jalar, singkong, tomat, kacang, alpukat, nanas, pepaya, jambu biji, dan mangga. Kelor mengandung 20,5 mg/100 gram daun kering. 50 kali lebih banyak dibanding  kandungan vitamin B2 dalam Sardines.

5.     Vitamin B 3 (Niasin)

Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat  untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan  protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini.  Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan.  Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain  gandum  dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual.

Niasin (bahasa Inggris: niacin, nicotinic acid vitamine) adalah salah satu senyawa organik yang ditemukan pada tahun 1937, yang berfungsi untuk mencegah penyakit  pelagra. Senyawa organik yang lain disebut nikotinamida, keduanya mengandung  alkaloid nikotina dan kemudian disebut sebagai vitamin B3, meskipun nikotinamida bukanlah nikotinamina.

Sekitar tahun 1956, niasin mulai digunakan pertama kali untuk menurunkan kadar kolesterol dan mencegah serangan jantung. Niasin berfungsi dengan baik untuk meningkatkan  HDL, menurunkan kadar  LDL  dan  trigliserida, namun penggunaan yang berlebihan dapat berakibat gagal hati yang hanya dapat diatasi dengan transplantasi.

Manusia membutuhkan vitamin B3 5-15 mg/hari dengan batas maksimal 35 mg/hari. Kekurangan vitamin B3 akan menyebabkan pelagra dengan gejala umum diare, demensia dan dermatitis.

Kelor mengandung vitamin B3 sebanyak 8,2 mg/100 gram daun kering, 50 kali lebih banyak dari kandungan vitamin B3 dalam kacang tanah.

6.     Vitamin B6 (piridoksin)

Bakteri pencernaan memproduksi vitamin ini dan sebagian diserap melalui dinding usus. Kekurangan vitamin ini menyebabkan masalah kulit seperti dermatitis seboroik di sekitar mata, hidung dan mulut. Pisang, alpukat, jeruk, tomat, apel, ayam, ikan, daging, telur, jeroan, kacang tanah dan kedelai adalah sumber vitamin B6 yang penting untuk metabolisme karbohidrat dan asam amino non-esensial.

Kelor mengandung 1.200 mg/100 gram daun segar, 29 kali lebih banyak dari apel dan 4,5 kali lebih banyak dari alpukat.

7.     Vitamin C  (asam askorbat)

Vitamin C terutama terdapat dalam buah jeruk, kiwi, melon, limau, jambu biji, sirsak, mangga, stroberi, pepaya, tomat, kubis dan cabai. Vitamin ini sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, membantu proses penyembuhan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh (membantu mencegah flu), merangsang sintesis kolagen, menjaga elastisitas kulit, dan menjaga kesehatan tulang, gigi, otot dan tendon. Vitamin C juga berperan sebagai antioksidan dan membantu penyerapan zat besi di usus.

Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan sariawan, mimisan, anemia, dan nyeri sendi. Namun, kekurangan vitamin C lebih jarang terjadi dibandingkan kekurangan beberapa jenis vitamin B.  Penderita penyakit kanker dan masalah pencernaan atau mereka yang mendapatkan infus lebih mudah terkena kekurangan vitamin C.

Karena mudah rusak oleh panas dan cahaya, makanan ya ng mengandung vitamin C harus disimpan di tempat sejuk dan teduh. Konsumsi vitamin C terlalu banyak dapat membahayakan karena menyebabkan diare dan batu ginjal. Karena vitamin C membantu penyerapan zat besi, dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan kelebihan zat besi.

Kelor mengandung Vitamin C sebanyak 220 mg/100 gram daun segar, 7 kali lebih bayak dari jeruk dan 10 kali lebih banyak dari anggur.

8.     Vitamin D (kalsiferol)

Vitamin D sangat penting untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, karena mengontrol penyerapan kalsium dan fosfor yang penting untuk metabolisme tulang. Kekurangan vitamin D pada anak-anak akan menyebabkan penyakit rakhitis, dan pada orang dewasa menyebabkan osteomalasia, kondisi di mana tulang menjadi lemah dan lunak.

Vitamin D dapat diproduksi tubuh saat kulit menerima ultraviolet dari sinar matahari. Kekurangan vitamin D dapat terjadi pada mereka yang memiliki diet rendah vitamin D atau jarang terkena sinar matahari. Dosis besar vitamin dapat menyebabkan kelebihan kalsium, terutama pada anak-anak, yang mengganggu pembentukan tulang. Namun, hal tersebut sangat jarang terjadi. Tidak ada rekomendasi mengenai diet vitamin D untuk orang dewasa yang hidup normal dan cukup terpapar sinar matahari.

Dibandingkan dengan susu, dalam berat yang sama (100 gram), daun Kelor segar mengandung Vitamin D alami 4 kali lebih banyak dan daun Kelor kering mengandung vitamin D 17 kali lebih banyak.

9.     Vitamin E (tokoferol)

Vitamin ini adalah antioksidan penting yang mencegah penuaan dini sel-sel, merangsang sistem kekebalan tubuh, mengurangi risiko katarak, melindungi dari penyakit jantung, mencegah penyakit kanker dan menjaga kesehatan kulit. Kekurangan vitamin E pada manusia jarang terjadi, kecuali pada bayi prematur dan mereka yang memiliki masalah pencernaan.

Vitamin E hadir dalam minyak wijen, kacang kedelai, beras, jagung dan biji bunga matahari, kuning telur, kacang-kacangan dan sayuran.

Kelor mengandung vitamin E sebanyak 113 mg/100 gram serbuk daun, 3 kali lebih banyak dari bayam dan 4 kali lebih banyak dibanding vitamin E yang terkandung dalam Minyak Jagung.

10.   Vitamin K, (Phylloquinone)

Vitamin K terlibat dalam pembekuan darah dan kekurangannya dapat menyebabkan perdarahan berlebihan dan kesulitan dalam penyembuhan. Kekurangan vitamin ini jarang terjadi, kecuali pada bayi baru lahir dan mereka yang memiliki masalah penyerapan atau metabolisme vitamin, seperti penderita penyakit hati kronis. Selada, kubis, kembang kol, bayam, kangkung, susu, dan sayuran berdaun hijau tua adalah sumber terbaik vitamin ini.

Kelor mengandung 108 µg/100 gram daun kering, 1,5 kali lebi banyak dari kubis.

Label: , , , , , , , , , , ,

Daun Kelor - Antioksidan

Label: , , , , ,

Daun Kelor - Pelancar ASI (Air Susu Ibu)

Setelah menjaga adik bayi selama 9 bulan di dalam kandungan, kini saatnya ibu merawat dia untuk tumbuh menjadi anak yang sehat. Jadi, hal yang paling penting adalah memberinya ASI. Agar bayi mendapatkan ASI yang cukup, ibu juga harus berusaha agar produksi ASInya tetap lancar. Bagaimana caranya? Ibu harus mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi karena ibu dengan nutrisi rendah kemungkinan akan memiliki cadangan ASI yang lebih sedikit. Menurut breastfeedingtipsandbenefits.blogspot.com, Ibu menyusui memproduksi sekitar 650-750 gram dan mengandung 330 mg kalsium. Jadi ibu hamil butuh 500 kalori per hari.

Banyak sekali sumber makanan yang bisa dikonsumsi untuk melancarkan produksi ASI, salah satunya adalah daun kelor. Daun yang biasanya digunakan yaitu daun kelor muda. Daun kelor bisa mengatasi masalah pencernaan, konstipasi atau sembelit, dan kram pada perut.

Ekstrak daun kelor juga bisa mematikan cacing-cacing di usus. Selain itu, ekstrak daun kelor yang dicampur dengan madu bisa bermanfaat untuk mengatasi sakit mata dan juga bekas luka.

Daun kelor ini mengandung vitamin A, B, dan C seperti tumbuhan berdaun lainnya. Ahli gizi mengatakan bahwa 200 mg daun kelor setara dengan nutrisi dari 4 telur dan 2 gram susu. Sedangkan 100 gram daun kelor setara dengan 75 kalori makanan bergizi, 60 gram protein, 13 gram karbohidrat, dan 353 mg kalsium.

Kandungan mineral pada daun kelor lebih banyak dari sayur lainnya misalnya niacin, tiamin, fosfor, dan asam askorbik. Daun kelor juga mengandung zat besi yang bisa mencegah anemia.

Nah, terbukti kan jika daun kelor bukan saja populer sebagai tanaman peluntur susuk, tapi sangat efektif memperlancar ASI. Ayo ibu, mulailah konsumsi daun kelor minimal sehari sekali ya!

Label: , , , , , , , , , , ,